<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog Agus &#38; Esti</title>
	<atom:link href="http://agusesti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusesti.wordpress.com</link>
	<description>Langkah Kecil Meraih Impian</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Apr 2008 13:56:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agusesti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blog Agus &#38; Esti</title>
		<link>http://agusesti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agusesti.wordpress.com/osd.xml" title="Blog Agus &#38; Esti" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agusesti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEMANA KARTINI-KARTINI ITU&#8230;.</title>
		<link>http://agusesti.wordpress.com/2008/04/28/kemana-kartini-kartini-itu/</link>
		<comments>http://agusesti.wordpress.com/2008/04/28/kemana-kartini-kartini-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 13:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusesti.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[OPINI Oleh : Esti Ambar Widyaningrum, S.Farm.,Apt.* Globalisasi telah merubah wajah dunia. Nilai-nilai tradisionalisme yang telah berkembang selama berabad-abad, kini tergeser oleh arus modernisasai. Adat istiadat, budaya bahkan agama telah tergerus oleh trend yang ada di dunia. Hampir semua kearifan lokal telah terkontaminasi dengan budaya luar negeri yang serba instans. Sekarang ini, dunia telah berubah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusesti.wordpress.com&amp;blog=3583564&amp;post=3&amp;subd=agusesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>OPINI</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="center">
<p style="margin-bottom:0.2in;line-height:100%;widows:0;orphans:0;" lang="en-US" align="center"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;">Oleh : Esti Ambar Widyaningrum, S.Farm.,Apt.*</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Globalisasi telah merubah  wajah dunia. Nilai-nilai tradisionalisme  yang telah berkembang selama berabad-abad, kini tergeser oleh arus modernisasai. Adat istiadat, budaya bahkan agama telah tergerus oleh </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>trend</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> yang ada di dunia. Hampir semua kearifan lokal telah terkontaminasi dengan budaya luar negeri yang serba </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>instans</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>. Sekarang ini, d</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>unia telah berubah layaknya sebuah desa yang kecil </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>(global village)</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"> Dengan sarana teknologi, bumi yang begitu luas telah berubah menjadi sebuah kampung, dimana satu manusia dengan yang lain bisa saling berinteraksi. Cukup berada di kamar, warga di sebuah desa bisa berkomunikasi dengan saudaranya yang bekerja di luar negeri. Cukup berada di rumah, seseorang bisa memantau kondisi luar negeri dengan televisi. Apa yang terjadi di Eropa dan Amerika pada hari ini, saat itu juga dapat diketahui di Indoensia. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Luapan informasi tersebut  juga telah lama masuk di </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>dunia mode. Apa yang menjadi </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>trend</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> di Eropa pada hari ini, minggu depan sudah menjadi incaran para wanita di Indonesia. Pakaian, tas, model rambut dan aksesoris perempuan lainnya telah membanjiri Indonesia. Mode luar negeri itu seakan terus berkata, &#8220;Jika kamu ingin modern maka ikutilah aku, dan belilah selalu  produk-produkku.&#8221;</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Wanita Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi produk luar negeri, terutama Eropa dan Amerika Serikat.  Mulai dari kosmetik, alat perawatan rambut, </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>fashion</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> dan lain-lain, semuanya laris manis di Indonesia. Melalui sarana iklan yang sangat gencar baik di media cetak maupun elektronik, perempuan Indonesia terus &#8216;bujuk&#8217; untuk selalu tergantung dengan produk-produk mereka. Kondisi ini mengingatkan kita pada era sebelum tahun 1945. Dahulu bangsa Indonesia dijajah bangsa asing selama 350 tahun, kini bangsa ini kembali dijajah dengan mode dan life </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>style </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>(gaya hidup) yang kebarat-baratan. Ternyata </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>neo kolonialisme </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>(penjajahan bentuk baru) benar-benar telah terjadi di negeri ini. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify">
<h1 class="western" style="line-height:100%;page-break-after:avoid;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>HILANGNYA SEMANGAT KARTINI</strong></span></span></h1>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Seorang teman pernah bercerita. Dia punya kawan perempuan yang baru mudik  dari  Hongkong. Alangkah kagetnya </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>sang </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>teman itu melihat perubahan pada </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>konco-</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>nya. Rambutnya  tiba-tiba jadi berwarna-warni, minggu ini merah, minggu depan kuning, bulan depan jadi hijau. Kemana-mana  bawaannya handphone kamera dengan </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>headset</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> yang pakai di telinga. Pakaian yang seharusnya dikenakan adiknya yang masih SMP, dipakai kemana-mana. Sehingga setiap keluar rumah, laki-laki yang </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>cangkruk</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> selalu bilang </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>suit&#8230;.suit&#8230;.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Apa  yang salah dari temannya teman itu? Mungkin sebagian besar orang akan menganggap itu adalah hal biasa. Dan disinilah letak kesalahannya. Bila semua orang menganggap wajar hal tersebut  maka telah terjadi perubahan parameter masyarakat  dalam memandang sebuah kepantasan seseorang. Dahulu orang akan malu jika berpakaian yang mengumbar aurat, kini malah senang bila lekukan tubuhnya dipandang oleh lawan jenis. Ketika para lelaki bilang </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>suit-suit</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>, dia malah </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>pede</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> (percaya diri). Jika dikomentari, dia malah bilang &#8221; ah.. di TV-TV juga seperti ini, ah.. diluar negeri juga biasa seperti ini.&#8221; Disinilah letak penjajahan baru itu. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Kalau kondisinya sudah seperti itu, lantas kemana jiwa-jiwa yang selalu memegang teguh adat ketimuran itu? Kemana jiwa-jiwa Raden Ajeng Kartini itu yang tidak terpengaruh oleh mode asing? Dalam bukunya &#8216;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8217;, Raden Ajeng Kartini, pernah berkata</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>“</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><strong>&#8230;.mereka</strong></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em> (gadis dan perempuan Belanda) memang sangat cantik jelita, berkulit putih, anggun bergaun panjang, rambut jagungnya terjurai kemilau keemasan. Akan tetapi aku tak akan mau menjadi seperti mereka. Sebab aku yang berkulit sawo matang dan berambut hitam ini hanya manis dan lebih pantas dengan kebaya, gelung, kain jarit&#8230;.”;. </em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em> </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>Sekarang memang bukan zamannya lagi perempuan bepergian memakai  sanggul, kebaya atau kain jarit karena </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>ribet</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> dan tidak praktis. Namun yang terpenting adalah </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>ruh</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Kartini, yakni  idealisme untuk tidak terpengaruh dengan mode asing yang sangat jauh dari nilai-nilai kepantasan dalam masyarakat Indonesia. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Serta idealisme Kartini untuk mengangkat kaum perempuan saat itu dari 3 (tuga) </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>ur</em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>, yakni dapur, sumur dan kasur, melalui jalan pendidikan. RA Kartini menjadi pelopor terbentuknya sekolah yang boleh menampung kaum perempuan di Jepara waktu itu. Karena dia yakin bila perempuan itu mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, maka perempuan  akan semakin dihargai. Bukan hanya karena kecantikan tubuhnya, tetapi juga karena otaknya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><strong>JALAN  PENDIDIKAN</strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"> Masalah pendidikan bagi kaum perempuan harus tetap menjadi fokus utama Pemerintah pada saat ini. Dengan penduduk yang mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia masih sering dipandang sebelah mata dalam meningkatkan kemampuan  kaum hawa di berbagai bidang kehidupan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"> Padahal Islam hadir untuk mengangkat derajat dan  memuliakan perempuan. Nabi Muhammad hadir pada saat bangsa Quraisy tidak mengahargai kaum perempuan. Mereka hanya menjadikan kaum perempuan sebagai budak dan mengubur hidup-hidup anak perempuan karena dianggapnya tidak berguna. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Bahkan Allah SWT telah memerintahkan kepada umatnya untuk terus mencari ilmu</span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>. Umat Islam  yang bergelut pada keimanan dan keilmuan adalah umat yang akan memperoleh posisi tinggi di sisi Allah Swt. Dan umat disini  tentu saja terdiri dari laki-laki dan perempuan. “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian” (QS. Al-Mujadalah: 11). </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;widows:0;orphans:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"> Secara khusus Aisya ra, istri tercinta Nabi Muhammad Saw, pernah memberikan apresiasi bagi para perempuan Anshar yang memiliki minat tinggi untuk belajar. Nabi berkata: “Perempuan terbaik adalah mereka yang dari Anshar, mereka tidak pernah malu untuk selalu belajar agama” (Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasâ&#8217;i, lihat: Ibn al-Atsîr, juz VIII, hal. 196, nomor hadis: 5352). </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;widows:0;orphans:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span> Untuk itu, tidak ada jalan lain bagi kaum perempuan selain  belajar dan terus belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Karena dengannya, derajat perempuan akan meningkat dihadapan Allah, apalagi dihadapan sesama manusia. Sebagaimana cita-cita Raden Ajeng Kartini untuk mengangkat perempuan yang dahulu dianggap </span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span><em>konco wingking </em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-size:small;"><span>(temen belakang) menjadi manusia yang lebih erguna, sesuai dengan kapasitasnya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;widows:0;orphans:0;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="fi-FI" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" lang="en-US" align="justify">
<p> &lt;META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT=&#8221;0; URL=/ym/login?nojs=1&#8243;&gt; &lt;style&gt;* { visibility: hidden; }&lt;/style&gt; &lt;script&gt; document.write(&#8216;&lt;style&gt;* { visibility: visible; }&lt;/style&gt;&#8217;); &lt;/script&gt; </p>
<p>			function OnLoad()<br />
			{<br />
				LHCol_Init();<br />
			}</p>
<p> &lt;META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT=&#8221;0; URL=/ym/login?nojs=1&#8243;&gt; &lt;style&gt;* { visibility: hidden; }&lt;/style&gt; &lt;script&gt; document.write(&#8216;&lt;style&gt;* { visibility: visible; }&lt;/style&gt;&#8217;); &lt;/script&gt; </p>
<p>			function OnLoad()<br />
			{<br />
				LHCol_Init();<br />
			}</p>
<p> &lt;META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT=&#8221;0; URL=/ym/login?nojs=1&#8243;&gt; &lt;style&gt;* { visibility: hidden; }&lt;/style&gt; &lt;script&gt; document.write(&#8216;&lt;style&gt;* { visibility: visible; }&lt;/style&gt;&#8217;); &lt;/script&gt; </p>
<p>			function OnLoad()<br />
			{<br />
				LHCol_Init();<br />
			}</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusesti.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusesti.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusesti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusesti.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusesti.wordpress.com&amp;blog=3583564&amp;post=3&amp;subd=agusesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusesti.wordpress.com/2008/04/28/kemana-kartini-kartini-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/db372126abdae689879be3f330fbe9f9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">agusesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://agusesti.wordpress.com/2008/04/26/hello-world/</link>
		<comments>http://agusesti.wordpress.com/2008/04/26/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 11:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusesti.wordpress.com&amp;blog=3583564&amp;post=1&amp;subd=agusesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusesti.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusesti.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusesti.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusesti.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusesti.wordpress.com&amp;blog=3583564&amp;post=1&amp;subd=agusesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusesti.wordpress.com/2008/04/26/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/db372126abdae689879be3f330fbe9f9?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">agusesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
