KEMANA KARTINI-KARTINI ITU…. April 28, 2008
Posted by agusesti in Uncategorized.Tags: Add new tag
trackback
OPINI
Oleh : Esti Ambar Widyaningrum, S.Farm.,Apt.*
Globalisasi telah merubah wajah dunia. Nilai-nilai tradisionalisme yang telah berkembang selama berabad-abad, kini tergeser oleh arus modernisasai. Adat istiadat, budaya bahkan agama telah tergerus oleh trend yang ada di dunia. Hampir semua kearifan lokal telah terkontaminasi dengan budaya luar negeri yang serba instans. Sekarang ini, dunia telah berubah layaknya sebuah desa yang kecil (global village).
Dengan sarana teknologi, bumi yang begitu luas telah berubah menjadi sebuah kampung, dimana satu manusia dengan yang lain bisa saling berinteraksi. Cukup berada di kamar, warga di sebuah desa bisa berkomunikasi dengan saudaranya yang bekerja di luar negeri. Cukup berada di rumah, seseorang bisa memantau kondisi luar negeri dengan televisi. Apa yang terjadi di Eropa dan Amerika pada hari ini, saat itu juga dapat diketahui di Indoensia.
Luapan informasi tersebut juga telah lama masuk di dunia mode. Apa yang menjadi trend di Eropa pada hari ini, minggu depan sudah menjadi incaran para wanita di Indonesia. Pakaian, tas, model rambut dan aksesoris perempuan lainnya telah membanjiri Indonesia. Mode luar negeri itu seakan terus berkata, “Jika kamu ingin modern maka ikutilah aku, dan belilah selalu produk-produkku.”
Wanita Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi produk luar negeri, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Mulai dari kosmetik, alat perawatan rambut, fashion dan lain-lain, semuanya laris manis di Indonesia. Melalui sarana iklan yang sangat gencar baik di media cetak maupun elektronik, perempuan Indonesia terus ‘bujuk’ untuk selalu tergantung dengan produk-produk mereka. Kondisi ini mengingatkan kita pada era sebelum tahun 1945. Dahulu bangsa Indonesia dijajah bangsa asing selama 350 tahun, kini bangsa ini kembali dijajah dengan mode dan life style (gaya hidup) yang kebarat-baratan. Ternyata neo kolonialisme (penjajahan bentuk baru) benar-benar telah terjadi di negeri ini.
HILANGNYA SEMANGAT KARTINI
Seorang teman pernah bercerita. Dia punya kawan perempuan yang baru mudik dari Hongkong. Alangkah kagetnya sang teman itu melihat perubahan pada konco-nya. Rambutnya tiba-tiba jadi berwarna-warni, minggu ini merah, minggu depan kuning, bulan depan jadi hijau. Kemana-mana bawaannya handphone kamera dengan headset yang pakai di telinga. Pakaian yang seharusnya dikenakan adiknya yang masih SMP, dipakai kemana-mana. Sehingga setiap keluar rumah, laki-laki yang cangkruk selalu bilang suit….suit….
Apa yang salah dari temannya teman itu? Mungkin sebagian besar orang akan menganggap itu adalah hal biasa. Dan disinilah letak kesalahannya. Bila semua orang menganggap wajar hal tersebut maka telah terjadi perubahan parameter masyarakat dalam memandang sebuah kepantasan seseorang. Dahulu orang akan malu jika berpakaian yang mengumbar aurat, kini malah senang bila lekukan tubuhnya dipandang oleh lawan jenis. Ketika para lelaki bilang suit-suit, dia malah pede (percaya diri). Jika dikomentari, dia malah bilang ” ah.. di TV-TV juga seperti ini, ah.. diluar negeri juga biasa seperti ini.” Disinilah letak penjajahan baru itu.
Kalau kondisinya sudah seperti itu, lantas kemana jiwa-jiwa yang selalu memegang teguh adat ketimuran itu? Kemana jiwa-jiwa Raden Ajeng Kartini itu yang tidak terpengaruh oleh mode asing? Dalam bukunya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, Raden Ajeng Kartini, pernah berkata“….mereka (gadis dan perempuan Belanda) memang sangat cantik jelita, berkulit putih, anggun bergaun panjang, rambut jagungnya terjurai kemilau keemasan. Akan tetapi aku tak akan mau menjadi seperti mereka. Sebab aku yang berkulit sawo matang dan berambut hitam ini hanya manis dan lebih pantas dengan kebaya, gelung, kain jarit….”;.
Sekarang memang bukan zamannya lagi perempuan bepergian memakai sanggul, kebaya atau kain jarit karena ribet dan tidak praktis. Namun yang terpenting adalah ruh Kartini, yakni idealisme untuk tidak terpengaruh dengan mode asing yang sangat jauh dari nilai-nilai kepantasan dalam masyarakat Indonesia.
Serta idealisme Kartini untuk mengangkat kaum perempuan saat itu dari 3 (tuga) ur, yakni dapur, sumur dan kasur, melalui jalan pendidikan. RA Kartini menjadi pelopor terbentuknya sekolah yang boleh menampung kaum perempuan di Jepara waktu itu. Karena dia yakin bila perempuan itu mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, maka perempuan akan semakin dihargai. Bukan hanya karena kecantikan tubuhnya, tetapi juga karena otaknya.
JALAN PENDIDIKAN
Masalah pendidikan bagi kaum perempuan harus tetap menjadi fokus utama Pemerintah pada saat ini. Dengan penduduk yang mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia masih sering dipandang sebelah mata dalam meningkatkan kemampuan kaum hawa di berbagai bidang kehidupan.
Padahal Islam hadir untuk mengangkat derajat dan memuliakan perempuan. Nabi Muhammad hadir pada saat bangsa Quraisy tidak mengahargai kaum perempuan. Mereka hanya menjadikan kaum perempuan sebagai budak dan mengubur hidup-hidup anak perempuan karena dianggapnya tidak berguna.
Bahkan Allah SWT telah memerintahkan kepada umatnya untuk terus mencari ilmu. Umat Islam yang bergelut pada keimanan dan keilmuan adalah umat yang akan memperoleh posisi tinggi di sisi Allah Swt. Dan umat disini tentu saja terdiri dari laki-laki dan perempuan. “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian” (QS. Al-Mujadalah: 11).
Secara khusus Aisya ra, istri tercinta Nabi Muhammad Saw, pernah memberikan apresiasi bagi para perempuan Anshar yang memiliki minat tinggi untuk belajar. Nabi berkata: “Perempuan terbaik adalah mereka yang dari Anshar, mereka tidak pernah malu untuk selalu belajar agama” (Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasâ’i, lihat: Ibn al-Atsîr, juz VIII, hal. 196, nomor hadis: 5352).
Untuk itu, tidak ada jalan lain bagi kaum perempuan selain belajar dan terus belajar, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Karena dengannya, derajat perempuan akan meningkat dihadapan Allah, apalagi dihadapan sesama manusia. Sebagaimana cita-cita Raden Ajeng Kartini untuk mengangkat perempuan yang dahulu dianggap konco wingking (temen belakang) menjadi manusia yang lebih erguna, sesuai dengan kapasitasnya.
<META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT=”0; URL=/ym/login?nojs=1″> <style>* { visibility: hidden; }</style> <script> document.write(‘<style>* { visibility: visible; }</style>’); </script>
function OnLoad()
{
LHCol_Init();
}
<META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT=”0; URL=/ym/login?nojs=1″> <style>* { visibility: hidden; }</style> <script> document.write(‘<style>* { visibility: visible; }</style>’); </script>
function OnLoad()
{
LHCol_Init();
}
<META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT=”0; URL=/ym/login?nojs=1″> <style>* { visibility: hidden; }</style> <script> document.write(‘<style>* { visibility: visible; }</style>’); </script>
function OnLoad()
{
LHCol_Init();
}
Komentar»
No comments yet — be the first.